Nafasnya kian
tidak teratur, sedikit liar. Sementara itu senjataku terjepit
dengan kedua pahanya. Bokep “Sabar-sabar”, katanya. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya
sambil menimang-nimang tititku. Aku ciumi, mulai dari lutut,
kemudian merambat ke paha mulusnya. “Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin. Dalam
perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian
semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku,
tanpa terpikirkan sebelumnya. Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat,
nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjaklonjak
dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada
ubun-ubunku. Menyaksikan rona wajah bu Ida
yang memerah jambu, kepasrahannya dalam
ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang
wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang
pria.Akhirnya aku menjadi ayah angkat pacarku walaupun umurnya berbeda tetapi pengabdiannya sebagai seorang
istri sangat membahagiakanku ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Akupun
menuruti saja, menekan pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa
hambatan. Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan
indah itu. Waktu baru pukul setengah
enam. Kadang seperti orang berenang, atau
menari




















