Lengannya terulur lagi, kali ini menarik zipper celanaku ke bawah. Aku tak tahan lagi. Bokep hijab Kuangkat kepalaku dan memandangnya. Mataku berkunang- kunang beberapa saat kemudian. Hey, seleramu lembut juga. “Kamju sudah pernah melakukannya?”
“Uh, apa? Kikuk, kuraih tangan kanannya dengan jemariku. Kurasa ia sibuk memikirkan tentang semua ketidaknyamanan yang telah kutimbulkan, sementara aku sendiri mungkin terlalu malu untuk memulainya. Aku sudah tidak perjaka. Aku memandangnya heran. Masih kudengar ia tertawa di belakangku. Kupikir akulah si keledai dungu itu, yang mengaku sudah pernah bercinta, ternyata seperti anak kecil di atas tempat tidur. Ia tertawa. Jangan bergerak. Kupandang wajahnya. Ia hanya balas menatapku dengan alis terangkat seolah mengulangi pertanyaan yang baru diajukannya. Ia membalikkan tubuh dan membungkuk. Asal jangan tiga kali menginjak kakiku.”
“Mungkin lebih.”
“Ayolah. Nafsuku membuatku memalingkan wajah dan menciumi kulit perutnya, sementara sebelah lenganku merangkul pinggangnya.




















