“Pelan maas..”, ujarnya kali, padahal aku merasa sudah melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Aku duduk posisiku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Bokep hijab “Mimpi tentang apa, Mas?”, penjelasannya begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku. Aku memandang memandang, memandang yang basah. “Tidak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu”, jawabku tanpa malu-malu.Eksanti tertawa sambil memainkan mencubit pinggangku.Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Kejantanan saya terus menegang membayangkan apa yang telah dan akan saya lakukan terhadap Eksanti nanti.setiap hari, saat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu begitu lambat.Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Eksanti belum juga meneleponku. Aku memandangi wajahnya. “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. Mendapat jawaban seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi pembohong.Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara




















