Setelah puas minum, Pak Gatot langsung berkata dengan tatapan nafsu, “Vicki, ayo ke kamar aja, ranjangnya besar, lebih enak, kamu boleh menjerit sepuasnya.” Aku lagi-lagi tersenyum malu, namun menjawab dengan sedikit khawatir, “Hah? Bokep Pak Gatot mengajakku makan di rumahnya dan setelah itu ia mulai mengajariku. Aku juga sering mendesah-desah tidak karuan. Aku menyetujuinya dan terus terang berdebar-debar juga memikirkannya. Pak Gatot berusia 50 tahunan, dari suku Jawa, tingginya sekitar 170-an, dengan perawakan besar dan hitam, wajahnya agak sadis dan tegas, terkenal sebagai guru “killer”, namun kata temen-temen orangnya baik bila ada murid yang minta bantuan. Aku hanya bisa memandang takjub dan melongo, mataku seperti terhipnotis oleh kontolnya. Kami berdua sudah sama-sama mandi keringat, apalagi urat-urat dan otot-otot di sekujur tubuh Pak Gatot jelas terlihat.




















