Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Aku mengikutinya. Bokep hijab Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Jam berapa aku berangkat. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Masih ada esok. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing.




















